Bagi pembaca yang mengalami zaman itu, prahara budaya mengingatkan kembali akan sikap partisan buta, trauma terompetisme slogan, dan kenyinyiran komandoisme. Bagi pembaca muda, buku ini membukakan tabir sejarah pergolakan seni-budaya pada zaman demokrasi terpimpin yang belum tersingkap selama ini.